Peluang Usaha Budidaya Asparagus

peluang usaha

User Rating: / 9
PoorBest 
Peluang Usaha Budidaya Asparagus - 4.1 out of 5 based on 9 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Peluang Usaha Budidaya Asparagus

Peluang Usaha Budidaya Asparagus

Asparagus merupakan tanaman sub tropis yang di ambil rebungnya untuk di jadikan makanan. Sup asparagus merupakan menu wajib yang tersedia di  restoran dan hotel berbintang. Asparagus berbeda dengan sayuran sub tropis lain seperti kol, brokoli, kentang juga wortel yang sudah dibudidayakan di Indonesia, maka aspargus masih mesti diimpor. Budidaya asparagus dulu pernah dilakukan di kabupaten Sukabumi serta Cianjur di Jawa Barat, dan kabupaten Mojokerto serta Malang di Jawa Timur. Tapi, budidaya asparagus secara besar-besaran pada tahun 1980 an ini telah mengalami kegagalan. Penyebab kegagalan tersebut di sebabkan beberapa hal.

Pertama, terjadinya sengketa status kepemilikan lahan dengan masyarakat dan kurang profesionalnya manajemen kelembagaan perusahaan yang mengelola kebun asparagus tersebut.
Kedua, rebung hasil panen belum memenuhi standard Internasional. Padahal pasar yang di targetkan adalah pasar International.
Ketiga, biaya budidaya produksi rebung asparagus dalam skala perkebunan besar, ternyata tidak mampu bersaing di pasar internasional. Padahal, pada waktu itu semangat para investor rebung asparagus adalah untuk menjangkau pasar ekspor. Akibat dari kendala-kendala tersebut, tahun 1990an kebun-kebun asparagus tadi telah tutup dan tidak lagi beroperasi.

Seluruh sayuran sub tropis yang sekarang ini berhasil dibudidayakan di Indonesia, seluruhnya di budidayakan oleh rakyat dalam skala sangat mikro. Mulai dari kol, kentang, wortel, bawang daun, seledri dan lainnya. Bunga krisan, leli, gladiol, anyelir dan lainnya yang memasok toko bunga, juga dibudidayakan oleh rakyat dengan skala kecil sampai menengah. Budidaya kentang dan bunga yang pernah dilakukan dalam skala besar, misalkan dengan luas lahan melebihi 50 hektar, hampir seluruhnya mengalami kegagalan. Budidaya krisan, gladiol dan leli di kawasan Bandungan, Jawa Tengah misalnya, bisa eksis sampai sekarang karena dilakukan secara tradisional oleh para petani dalam skala mikro ( hanya ratusan meter persegi ). Bahkan, bunga krisan tunggal, sebelum krisan spray populer, selalu dilakukan dalam petak sangat kecil yang diberi naungan atap jerami padi. Leli putih malahan dibudidayakan di pinggir ladang jagung, di sela-sela singkong dan mawar tabur.

Rebung asparagus sudah di temukan sejak jaman Belanda tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama di Bandungan, Tawangmangu dan Selecta. Tapi asparagus yang budidaya di pematang dan di sela - sela tanaman jagung dan sayuran ini, fungsinya hanya dipanen daunnya sebagai tanaman hias. Daun asparagus adalah "hijauan" untuk ornamen rangkaian bunga, sebelum ornamen lain seperti florida beauty diintroduksi dan populer. Sebenarnya, asparagus yang ditanam untuk diambil daunnya, adalah jenis Asparagus setactus yang marambat. Asparagus jenis ini banyak ditanam di teras rumah dan dirambatkan dengan tali, kawat atau kayu.

Sedangkan  Asparagus densiflorus dan Asparagus umbellatus yang banyak dijadikan elemen taman karena bentuk tajuknya yang tebal serta indah mirip ekor tupai. Juga Asparagus falcatus yang berdaun besar - besar hingga sepintas tidak seperti asparagus. Barangkali karena volume daun Asparagus setaceus tidak mencukupi untuk dipanen sebagai ornamen rangkaian bunga, maka petani pun mensubstitusinya dengan Asparagus officinalis yang merupakan tanaman penghasil rebung. Hingga masyarakat setempat pun tidak pernah mengenal rebung asparagus ini sebagai bahan sayuran. Padahal, bila dipanen dan dikumpulkan sebagai rebung, rebung asparagus hasil tanaman rakyat dapat tetap bisa mamasok pasar. Seperti halnya dengan bunga leli rakyat yang dengan volume sangat terbatas, tetap bisa mensubstitusi leli tanaman PTPN XII di Pegunungan Ijen dan tanaman perusahaan-perusahaan besar di kawasan Puncak, Jawa Barat.

asparagus ( Asparagus officinalis ), merupakan tanaman terna tahunan. Asparagus mempunyai batang didalam tanah atau rizoma, yang dapat menumbuhkan rebung asparagus. Sedangkan "batang" yang terlihat di luar tanah adalah tempat tumbuhnya cabang, ranting serta daun. Daun asparagus berbentuk jarum. Sekilas tanaman asparagus penghasil rebung ini mirip dengan cemara. Tapi tinggi tanaman hanya sekitar 1 meter, dengan diameter batang hanya 1 centi meter. Didalam suatu rumpun asparagus, biasanya akan terdapat 4 hingga 5 batang tanaman. Karena di Bandungan asparagus dipanen hanya daunnya, maka rebung yang tumbuh selalu dibiarkan menjadi individu tanaman yang baru. Sesudah mencapai umur tertentu, maka daun asparagus akan dipanen dengan cara dipotong mulai bagian pangkal batangnya. Pemanenan daun asparagus dan juga rebungnya, dilakukan dengan interval 1 hingga 1,5 bulan di kawasan tropis, sementara di kawasan sub tropis antara 1,5 hingga 2 bulan.

Budidaya asparagus, dilakukan menggunakan benih yang berasal dari perbanyakan generatif melalui biji. Asparagus berbuah buni memiliki bentuk bulat dengan diameter 0,5 centi meter. Warna buah hijau saat masih muda serta akan berubah menjadi cokelat kehitaman saat telah tua. Buah masak ditandai dengan warna hitam serta lembeknya kulit buah dengan daging buahnya yang sangat tipis. Biji asparagus juga berwarna hitam dengan kulit biji sangat keras. Untuk mempercepat perkecambahan, petani biasanya melakukan perendaman biji dengan air hangat (suhu 40 - 45° C) yang dicampur dengan zat perangsang tumbuh (ZPT), perendaman dilakukan selama 12 jam. Air perendaman di ganti satu kali agar menjaga suhu serta ketersediaan oksigen. Dengan perendaman demikian, perkecambahan benih dapat berlangsung lebih cepat, dan tingkat keberhasilan yang tinggi.

Rebung asparagus sebetulnya adalah ujung rizome yang akan tumbuh menjadi individu tanaman baru. Rebung ini berwarna putih saat masih berada didalam tanah, lalu berwarna hijau muda dengan pangkal agak kemerahan saat sudah menyembul di permukaan tanah. Rebung asparagus berdiameter sedikit lebih besar dibandingkan  dengan batang dewasanya. Panen umumnya dilakukan saat rebung tersebut masih berada di dalam tanah. Warna rebung putih, masih sangat lunak dengan kulit yang juga lembut. Panjang rebung yang dipanen antara 15 hingga 20 centi meter. Tapi ada juga konsumen yang menginginkan rebung yang sudah menyembul dari permukaan tanah serta berwarna hijau.

Tanaman asparagus akan tumbuh lebih cepat di kawasan tropis dibanding bila di kawasan sub tropis. Hal ini kerena pada sub tropis, fotosintesis terbatas hanya selama musim panas. Sedangkan bila musim dingin, tanaman akan mengalami masa dorman (istirahat). Pada iklim tropis, asparagus dapat berfotosintesis penuh sepanjang tahun. Saat musim kemarau, bila lahan diberikan pengairan cukup baik, maka produksi rebung dapat lebih tinggi daripada saat musim penghujan. Walaupun tidak berpengairan teknis, lahan - lahan vulkanis di pegunungan biasanya akan tetap lembap pada musim kemarau. Sehingga volume produksi rebung di kawasan tropis, rata - rata juga lebih tinggi dari pada produksi di kawasan sub tropis. Rata - rata produksi rebung asparagus dengan budidaya monokultur dapat menghasilkan sekitar 10 ton rebung segar per hektar per tahun. Namun, budidaya asparagus secara monokultur dengan manajemen modern, telah terbukti kurang efisien dibanding dengan budidaya secara tradisional oleh rakyat.

Pada wilayah Indonesia, budidaya asparagus cocok dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian antara 600 hingga 1700  mdpl. Seperti di Brastagi (Sumut). Bukittinggi (Sumbar), Curub (Bengkulu), Puncak, Selabintana, Lembang dan Pangalengan (Jabar). Baturaden, Dieng, Temanggung, Bandungan, Kopeng dan Tawangmangu (Jateng), Kaliurang (DIY), Tretes, Selecta, Batu dan pegunungan Ijen (Jatim), Bedugul (Bali), Sembalun (Lombok) dan Toraja (Sulsel). Kawasan ini bertanah vulkanis yang gembur dan kaya bahan organik. Tapi produksi asparagus dapat lebih optimal bila lahan diberikan pupuk organik. Para petani sayuran di kawasan ini, umumnya menggunakan pupuk kandang berupa kotoran sapi dan domba untuk menyuburkan lahan mereka. Lahan gembur dan kaya bahan organik mutlak dibutuhkan oleh asparagus untuk membentuk rizome dan memproduksi rebung.

Sayangnya, hingga saat ini asparagus tanaman rakyat tidak pernah dipanen rebungnya untuk dipasarkan sebagai "sayuran elite". Padahal kebun - kebun asparagus skala besar telah tutup. Sampai saat ini, hotel - hotel serta restoran berbintang selalu menggunakan rebung asparagus impor, terutama yang telah dikalengkan. Beberapa hotel bintang malah secara rutin mengimpor rebung asparagus segar meskipun volumenya tetap sangat terbatas. Seandainya hotel - hotel bintang ini bisa kontak dengan para petani asparagus di Bandungan atau daerah lain, maka kedua belah pihak akan sangat diuntungkan. Konsumen akan memperoleh asparagus segar dengan harga lebih murah dari pada yang impor. Sedangkan petani akan mendapatkan harga yang baik dibanding dengan memanen asparagus mereka hanya untuk ornamen rangkaian bunga. Peluang usaha inilah yang dapat anda tangkap dari asparagus, budidayakan asparagus untuk di ambil rebungnya dan jual ke hotel hotel atau restoran berbintang yang ada dalam negeri dan bahkan eksport.

Sumber : foragri.blogsome.com


Silahkan di share atau like ke social media di bawah ini supaya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Copy artikel harus memberikan live link ke sumber artikel

Akses ditolak!
Silahkan Login atau Register Untuk berkomentar!