Cara Penyulingan Minyak Atsiri

pelatihan pertanian

User Rating: / 8
PoorBest 
Cara Penyulingan Minyak Atsiri - 3.8 out of 5 based on 8 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Cara Penyulingan Minyak Atsiri

Tanaman Minyak Atsiri

Melimpahnya kekayaan hayati Indonesia membuat semakin berkembangnya ide - ide untuk meningkatkan nilai jual produk tanaman terutama tanaman penghasil minyak atsiri (essential oil). Di Indonesia sudah dikenal sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, namun baru sebagian saja yang sudah digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersil.


Minyak atsiri di peroleh dengan cara menyuling atau destilasi terhadap tanaman penghasil minyak.
Ada 3 cara yang dapat di lakukan menggunakan metode penyulingan atau destilasi , untuk keperluan komersial minyak atsiri. Yaitu :
Penyulingan menggunakan sistem rebus (Water Distillation)
Penyulingan menggunakan air dan uap (Water and Steam Distillation)
Penyulingan menggunakan uap langsung (Direct Steam Distillation)
Penerapan penggunaan cara penyulingan minyak atsiri atau destilasi yang sesuai didasarkan pada beberapa pertimbangan seperti jenis bahan baku tanaman, karakteristik minyak, proses difusi minyak dengan air panas, dekomposisi minyak akibat efek panas, efisiensi produksi serta alasan nilai ekonomis dan efektifitas produksi.

 

Berikut ini akan kami bahas masing-masing metode penyulingan diatas :


Penyulingan menggunakan sistem rebus (Water Distillation)

Cara penyulingan menggunakan sistem ini adalah dengan memasukkan bahan baku, baik yang sudah dilayukan, bahan kering maupun bahan basah ke dalam ketel penyuling yang sudah di isi air setelah itu dipanaskan. Uap yang keluar dari ketel dialirkan dengan pipa yang dihubungkan dengan kondensor. Uap yang merupakan campuran uap air serta minyak akan terkondensasi menjadi cair serta ditampung dalam wadah. Selanjutnya cairan minyak serta air itu dipisahkan dengan separator pemisah minyak untuk diambil minyaknya saja. Cara ini umumnya digunakan untuk menyuling minyak atsiri aromaterapi seperti mawar serta melati. Walaupun demikian bunga mawar, melati serta sejenisnya akan lebih cocok menggunakan sistem enfleurasi, bukan destilasi.
Yang harus diperhatikan adalah ketel terbuat dari bahan anti karat seperti stainless steel, tembaga atau besi berlapis aluminium.

Penyulingan menggunakan air dan uap (Water and Steam Distillation)


Cara penyulingan menggunakan air dan uap ini biasa dikenal dengan sistem kukus. Cara ini sebetulnya mirip dengan system rebus, hanya saja bahan baku serta air tidak bersinggungan langsung karena dibatasi dengan saringan diatas air.
Cara penyulingan ini merupakan yang paling banyak dilakukan di dunia industri karena hanya membutuhkan sedikit air hingga dapat menyingkat waktu proses produksi. Metode penyulingan kukus ini biasa dilengkapi sistem kohobasi yaitu air kondensat yang keluar dari separator masuk kembali secara otomatis ke dalam ketel agar meminimkan kehilangan air. Bagaimanapun cost produksi juga diperhitungkan didalam aspek komersial. Disisi lain, metode penyulingan kukus kohobasi lebih menguntungkan oleh karena terbebas dari proses hidrolisa terhadap komponen minyak atsiri serta proses difusi minyak dengan air panas. Selain itu dekomposisi minyak akibat panas akan lebih baik dibandingkan menggunakan metode uap langsung (Direct Steam Distillation).
Metode penyulingan menggunakan sistem kukus ini bisa menghasilkan uap dan panas yang stabil oleh karena tekanan uap yang konstan.

Penyulingan menggunakan uap langsung (Direct Steam Distillation)


Pada metode ini bahan baku tidak kontak langsung dengan air ataupun api tapi hanya uap bertekanan tinggi yang difungsikan untuk menyuling minyak. Prinsip kerja metode ini adalah membuat uap bertekanan tinggi didalam boiler, lalu uap tersebut dialirkan melalui pipa dan masuk ketel yang berisi bahan baku. Uap yang keluar dari ketel dihubungkan dengan kondensor. Cairan kondensat yang berisi campuran minyak dan air dipisahkan menggunakan separator yang sesuai berat jenis minyak. Penyulingan menggunakan cara penyulingan minyak atsiri ini umumnya dipakai untuk bahan baku yang membutuhkan tekanan tinggi pada proses pengeluaran minyak dari sel tanaman atsiri, misalnya gaharu, cendana, dll.

Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan pada proses destilasi antara lain :


Bahan baku (Raw material)
Pilihlah bahan baku yang jelas memiliki randemen minyak tinggi. Pengukuran rendemen minyak dapat dilakukan di laboratorium atau dapat juga dilakukan sendiri menggunakan alat Stahl Distillation.
Sebelum disuling bahan baku mesti dirajang dahulu agar mempermudah keluarnya minyak yang berada di ruang antar sel didalam jaringan tanaman.
Tentukan juga perlakuan awal bahan baku, apakah bahan basah, layu atau kering. Ini sangat penting karena setiap bahan baku memerlukan penenangan yang berbeda. Sebagai contoh perlakuan nilam sebaiknya dalam keadaan kering dengan kadar air antara 22-25%. Jika yang masuk ketel adalah nilam basah memerlukan waktu destilasi lebih lama, akibatnya biaya produksi menjadi lebih besar.

Alat Penyulingan
Agar memperoleh produk minyak atsiri yang berkualitas, gunakanlah alat yang tidak menimbulkan reaksi kontaminasi terhadap produk minyak atsiri. Material yang baik adalah menggunakan glass atau pyrex dan stainless steel. Bagi material glass hanya mampu untuk skala laboratorium, sedang skala industri biasa digunakan stainless steel.
Jenis material stainlees steel mulai dari yang paling bagus diantaranya :
Material Pharmaceutical Grade (SUS 316)
Material Food Grade (SUS 314)
Material Mild Mild Steel Galvanized
Material Mild Steel
Bagi keperluan destilasi minyak atsiri umumnya digunakan material food grade.
Perlu juga diperhatikan penggunaan jacket ketel atau sekat kalor jika proses penyulingan berada didaerah dingin seperti di pengunungan, ini dimaksudkan agar mengurangi kehilangan kalor panas.
Harus dipasang juga accessories control dan safety device yang minimal berupa thermometer, manometer tekanan (pressure gauge) dan safety valve untuk alat destilasi yang menggunakan boiler.

Condensor (Pendingin)
Alat ini digunakan sebagai kondensasi (mengembunkan) uap yang keluar dari ketel. Prinsip kerja alat ini adalah merubah fase uap menjadi fase cair karena pertukaran kalor dalam pipa pendingin. Pada alat berskala laboratorium bisa menggunakan condensor lurus (liebig), sedang untuk skala industri harus menggunakan kondensor yang lebih besar. Kondensor untuk skala produksi berbahan stainless dalam bentuk pipa spiral agar kontak dengan air pendingin lebih lama dan area perpindahan kalor juga lebih panjang.

Separator (Pemisah Minyak)
Alat ini berfungsi untuk memisahkan minyak atsiri dengan air berdasarkan perbedaan berat jenis. Separator untuk alat suling sistem kukus kohobasi tersedia 2 macam yaitu untuk minyak dengan density (massa jenis) rendah dan minyak density tinggi.

Receiver Tank (Tangki Penampung)
Digunakan untuk menampung minyak atsiri, bisa dari bahan glass atau stainless steel. Untuk bahan glass, gunakan botol gelap agar minyak terhindar dari masuknya sinar matahari langsung sehingga tidak menurunkan grade minyak. Selamat memanfaatkan peluang usaha minyak atsiri ini.

Dari berbagai sumber
pustaka.litbang.deptan.go.id
lansida.blogspot.com
pustaka.unpad.ac.id
Dewan Atsiri Indonesia


Silahkan di share atau like ke social media di bawah ini supaya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Copy artikel harus memberikan live link ke sumber artikel

Akses ditolak!
Silahkan Login atau Register Untuk berkomentar!