Cara Penyulingan Minyak Atsiri

pelatihan pertanian

Written by Dody Tabrani

User Rating: / 8
PoorBest 
Cara Penyulingan Minyak Atsiri - 3.8 out of 5 based on 8 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Cara Penyulingan Minyak Atsiri

Tanaman Minyak Atsiri

Melimpahnya kekayaan hayati Indonesia membuat semakin berkembangnya ide - ide untuk meningkatkan nilai jual produk tanaman terutama tanaman penghasil minyak atsiri (essential oil). Di Indonesia sudah dikenal sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, namun baru sebagian saja yang sudah digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersil.


Minyak atsiri di peroleh dengan cara menyuling atau destilasi terhadap tanaman penghasil minyak.
Ada 3 cara yang dapat di lakukan menggunakan metode penyulingan atau destilasi , untuk keperluan komersial minyak atsiri. Yaitu :
Penyulingan menggunakan sistem rebus (Water Distillation)
Penyulingan menggunakan air dan uap (Water and Steam Distillation)
Penyulingan menggunakan uap langsung (Direct Steam Distillation)
Penerapan penggunaan cara penyulingan minyak atsiri atau destilasi yang sesuai didasarkan pada beberapa pertimbangan seperti jenis bahan baku tanaman, karakteristik minyak, proses difusi minyak dengan air panas, dekomposisi minyak akibat efek panas, efisiensi produksi serta alasan nilai ekonomis dan efektifitas produksi.

 

Berikut ini akan kami bahas masing-masing metode penyulingan diatas :


Penyulingan menggunakan sistem rebus (Water Distillation)

Cara penyulingan menggunakan sistem ini adalah dengan memasukkan bahan baku, baik yang sudah dilayukan, bahan kering maupun bahan basah ke dalam ketel penyuling yang sudah di isi air setelah itu dipanaskan. Uap yang keluar dari ketel dialirkan dengan pipa yang dihubungkan dengan kondensor. Uap yang merupakan campuran uap air serta minyak akan terkondensasi menjadi cair serta ditampung dalam wadah. Selanjutnya cairan minyak serta air itu dipisahkan dengan separator pemisah minyak untuk diambil minyaknya saja. Cara ini umumnya digunakan untuk menyuling minyak atsiri aromaterapi seperti mawar serta melati. Walaupun demikian bunga mawar, melati serta sejenisnya akan lebih cocok menggunakan sistem enfleurasi, bukan destilasi.
Yang harus diperhatikan adalah ketel terbuat dari bahan anti karat seperti stainless steel, tembaga atau besi berlapis aluminium.

Penyulingan menggunakan air dan uap (Water and Steam Distillation)


Cara penyulingan menggunakan air dan uap ini biasa dikenal dengan sistem kukus. Cara ini sebetulnya mirip dengan system rebus, hanya saja bahan baku serta air tidak bersinggungan langsung karena dibatasi dengan saringan diatas air.
Cara penyulingan ini merupakan yang paling banyak dilakukan di dunia industri karena hanya membutuhkan sedikit air hingga dapat menyingkat waktu proses produksi. Metode penyulingan kukus ini biasa dilengkapi sistem kohobasi yaitu air kondensat yang keluar dari separator masuk kembali secara otomatis ke dalam ketel agar meminimkan kehilangan air. Bagaimanapun cost produksi juga diperhitungkan didalam aspek komersial. Disisi lain, metode penyulingan kukus kohobasi lebih menguntungkan oleh karena terbebas dari proses hidrolisa terhadap komponen minyak atsiri serta proses difusi minyak dengan air panas. Selain itu dekomposisi minyak akibat panas akan lebih baik dibandingkan menggunakan metode uap langsung (Direct Steam Distillation).
Metode penyulingan menggunakan sistem kukus ini bisa menghasilkan uap dan panas yang stabil oleh karena tekanan uap yang konstan.

Penyulingan menggunakan uap langsung (Direct Steam Distillation)


Pada metode ini bahan baku tidak kontak langsung dengan air ataupun api tapi hanya uap bertekanan tinggi yang difungsikan untuk menyuling minyak. Prinsip kerja metode ini adalah membuat uap bertekanan tinggi didalam boiler, lalu uap tersebut dialirkan melalui pipa dan masuk ketel yang berisi bahan baku. Uap yang keluar dari ketel dihubungkan dengan kondensor. Cairan kondensat yang berisi campuran minyak dan air dipisahkan menggunakan separator yang sesuai berat jenis minyak. Penyulingan menggunakan cara penyulingan minyak atsiri ini umumnya dipakai untuk bahan baku yang membutuhkan tekanan tinggi pada proses pengeluaran minyak dari sel tanaman atsiri, misalnya gaharu, cendana, dll.

Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan pada proses destilasi antara lain :


Bahan baku (Raw material)
Pilihlah bahan baku yang jelas memiliki randemen minyak tinggi. Pengukuran rendemen minyak dapat dilakukan di laboratorium atau dapat juga dilakukan sendiri menggunakan alat Stahl Distillation.
Sebelum disuling bahan baku mesti dirajang dahulu agar mempermudah keluarnya minyak yang berada di ruang antar sel didalam jaringan tanaman.
Tentukan juga perlakuan awal bahan baku, apakah bahan basah, layu atau kering. Ini sangat penting karena setiap bahan baku memerlukan penenangan yang berbeda. Sebagai contoh perlakuan nilam sebaiknya dalam keadaan kering dengan kadar air antara 22-25%. Jika yang masuk ketel adalah nilam basah memerlukan waktu destilasi lebih lama, akibatnya biaya produksi menjadi lebih besar.

Alat Penyulingan
Agar memperoleh produk minyak atsiri yang berkualitas, gunakanlah alat yang tidak menimbulkan reaksi kontaminasi terhadap produk minyak atsiri. Material yang baik adalah menggunakan glass atau pyrex dan stainless steel. Bagi material glass hanya mampu untuk skala laboratorium, sedang skala industri biasa digunakan stainless steel.
Jenis material stainlees steel mulai dari yang paling bagus diantaranya :
Material Pharmaceutical Grade (SUS 316)
Material Food Grade (SUS 314)
Material Mild Mild Steel Galvanized
Material Mild Steel
Bagi keperluan destilasi minyak atsiri umumnya digunakan material food grade.
Perlu juga diperhatikan penggunaan jacket ketel atau sekat kalor jika proses penyulingan berada didaerah dingin seperti di pengunungan, ini dimaksudkan agar mengurangi kehilangan kalor panas.
Harus dipasang juga accessories control dan safety device yang minimal berupa thermometer, manometer tekanan (pressure gauge) dan safety valve untuk alat destilasi yang menggunakan boiler.

Condensor (Pendingin)
Alat ini digunakan sebagai kondensasi (mengembunkan) uap yang keluar dari ketel. Prinsip kerja alat ini adalah merubah fase uap menjadi fase cair karena pertukaran kalor dalam pipa pendingin. Pada alat berskala laboratorium bisa menggunakan condensor lurus (liebig), sedang untuk skala industri harus menggunakan kondensor yang lebih besar. Kondensor untuk skala produksi berbahan stainless dalam bentuk pipa spiral agar kontak dengan air pendingin lebih lama dan area perpindahan kalor juga lebih panjang.

Separator (Pemisah Minyak)
Alat ini berfungsi untuk memisahkan minyak atsiri dengan air berdasarkan perbedaan berat jenis. Separator untuk alat suling sistem kukus kohobasi tersedia 2 macam yaitu untuk minyak dengan density (massa jenis) rendah dan minyak density tinggi.

Receiver Tank (Tangki Penampung)
Digunakan untuk menampung minyak atsiri, bisa dari bahan glass atau stainless steel. Untuk bahan glass, gunakan botol gelap agar minyak terhindar dari masuknya sinar matahari langsung sehingga tidak menurunkan grade minyak. Selamat memanfaatkan peluang usaha minyak atsiri ini.

Dari berbagai sumber
pustaka.litbang.deptan.go.id
lansida.blogspot.com
pustaka.unpad.ac.id
Dewan Atsiri Indonesia

 

Budidaya Apel

pelatihan pertanian

Written by Dody Tabrani

User Rating: / 13
PoorBest 
Budidaya Apel - 4.2 out of 5 based on 13 votes

Budidaya Apel

budidaya bertanam apel

1. Asal usul tanaman Apel

Apel adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia Barat yang memiliki iklim sub tropis. Di Indonesia apel sudah ditanam sejak tahun 1934 sampai sekarang.

Menurut Silsilah, tanaman apel termasuk dalam:
Divisio       : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Klas            : Dicotyledonae
Ordo           : Rosales
Famili          : Rosaceae
Genus         : Malus
Spesies       : Malus sylvestris Mill
Dari spesies Malus sylvestris Mill inilah, berasal beragam varietas yang memiliki ciri khas tersendiri. Beberapa varietas apel unggulan antara lain: Rome Beauty, Manalagi, Anna, Princess Noble dan Wangli/Lali jiwo.

2. Manfaat tanaman apel

Buah Apel mengandung banyak vitamin C dan B yang di butuhkan tubuh. Apel juga kerap dijadikan pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.

3. Pusat penanaman

Pusat penanaman apel di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel adalah di Malang ( Batu dan Poncokusumo ) dan Pasuruan (Nongkojajar), Jawa timur. Di sini apel telah diupayakan sejak tahun 1950, dan berkembang pesat pada tahun 1960 sampai saat ini. Selain itu daerah lain yang
banyak ditanami apel adalah Jawa Timur ( Kayumas - Situbondo, Banyuwangi ), Jawa Tengah ( Tawangmangu ), Bali ( Buleleng dan Tabanan ), Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Sedangkan pusat budidaya apel dunia berada di Eropa, Amerika, dan Australia.

4. Syarat tumbuh tanaman apel

a. Iklim
1) Curah hujan yang ideal adalah 1.000-2.600 mm / tahun dengan hari hujan 110-150 hari / tahun. Dalam satu tahun banyaknya bulan basah mencapai 6 - 7 bulan sedangkan bulan kering 3 - 4 bulan. Curah hujan yang tinggi saat berbunga dapat menyebabkan bunga gugur hingga tidak bisa jadi buah.
2) Tanaman apel butuh cahaya matahari yang cukup antara 50 - 60% setiap hari, terutama disaat pembungaan.
3) Suhu yang sesuai untuk apel berkisar antara 16 - 27 derajat C.
4) Kelembaban udara yang dibutuhkan tanaman apel berkisar 75 - 85%.
b. Media Tanam
1) Tanaman apel dapat tumbuh baik pada tanah yang bersolum dalam, memiliki lapisan organik tinggi, serta struktur tanahnya remah serta gembur, memiliki aerasi, penyerapan air dan porositas baik, hingga pertukaran oksigen, pergerakan hara serta kemampuan menyimpanan airnya optimal.
2) Tanah yang cocok adalah Latosol, Andosol serta Regosol.
3) Tingkat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk tanaman apel adalah 6 - 7 serta kandungan air tanah yang dibutuhkan selalu tersedia.
4) Pada pertumbuhannya tanaman apel memerlukan kandungan air tanah yang cukup.
5) Keiringan yang sangat tajam dapat menyulitkan perawatan tanaman, sehingga bila masih memungkinkan dibuat terasering maka tanah masih dapat ditanami.
c. Ketinggian Tempat
Tanaman apel bisa tumbuh serta berbuah baik pada ketinggian 700 - 1200 meter dari permukaan laut ( m dpl ), dan dengan ketinggian optimal 1000 - 1200 m dpl.

5. Cara Budidaya Apel


A. Pembibitan
Pembiakan bibit tanaman apel dilakukan secara vegetatif dan generatif. Pembiakan yang baik yang umumnya  dilakukan adalah pembiakan vegetatif, sebab pembiakan generatif memakan waktu lama serta sering menghasilkan bibit yang menyimpang dari induknya. Teknik pembiakan generatif dilakukan dengan biji, sedangkan pembiakan vegetatif dilakukan dengan okulasi atau penempelan /budding, sambungan / grafting dan stek. Ada baiknya anda mengikuti pelatihan pertanian untuk melakukan pebibitan apel.
1) Persyaratan Benih
Syarat batang bawah : adalah apel liar, perakaran luas serta kuat, bentuk pohon kokoh, memiliki daya adaptasi tinggi. Sedangkan syarat mata tunas adalah berasal dari batang tanaman apel yang sehat serta memilki sifat - sifat unggul.
2) Penyiapan Benih
Penyiapan benih dilakukan dengan cara pembiakan batang bawah dengan langkah - langkah sebagai berikut:
a) Anak-an / siwilan
1. Ciri anakan yang diambil adalah tinggi 30 centimeter , diameter 0,5 centimeter serta kulit batang kecoklatan.
2. Anakan diambil dari pangkal batang bawah tanaman produktif dengan cara menggali tanah disekitar pohon, lalu anakan dicabut beserta akarnya secara perlahan - lahan dan hati - hati.
3. Sesudah anakan dicabut, anakan dirompes dan cabang-cabang dipotong, lalu ditanam pada bedengan selebar 60 centimeter  dengan kedalaman parit 40 centimeter .
b) Rundukan (layering)
1. Bibit hasil rundukan bisa didapat dengan dua cara yakni:
- Anakan pohon induk apel liar: anakan yang agak panjang direbahkan melekat tanah, kemudian cabang dijepit kayu serta ditimbun tanah, penimbunan dilakukan tiap 2 mata, jika telah cukup kuat, tunas dapat dipisahkan dengan cara memotong cabangnya.
- Perundukan tempelan batang bawah: dilakukan pada waktu tempelan dibuka (2 minggu) yaitu dengan memotong 2/3 bagian penampang batang bawah, sekitar 2 centimeter diatas tempelan, bagian atas keratan dibenamkan dalam tanah lalu ditekuk lagi keatas. Di tekukan diberi penjepit kayu atau bambu.
2. Sesudah rundukan berumur sekitar 4 bulan, dilakukan pemisahan bakal bibit dengan cara memotong miring batang tersebut dibawah keratan atau tekukan. Bekas luka diolesi defolatan.
c) Stek
Stek apel liar memiliki panjang 15 - 20 centimeter  ( diameter seragam dan lurus), sebelum ditanam bagian bawah stek dicelupkan ke larutan Roton F agar merangsang pertumbuhan akar. Jarak penanaman 30 x 25 centimeter , setiap bedengan ditanami dua baris. Stek siap diokulasi pada umur 5 bulan, diameter batang ± 1centimeter serta perakaran sudah cukup kuat.
3) Teknik Pembibitan
a) Penempelan
1. Pilih batang bawah yang memenuhi syarat yakni sudah berumur 5 bulan, diameter batang ± 1 centimeter serta kulit batangnya mudah dikelupas dari kayu.
2. Ambil mata tempel dari cabang atau batang sehat yang berasal dari pohon apel varietas unggul yang telah terbukti keunggulannya. Caranya adalah dengan menyayat mata tempel beserta kayunya sepanjang 2,5-5 cm (Matanya ditengah-tengah). lalu lapisan kayu dibuang dengan hati-hati agar matanya tidak rusak
3. Buat lidah kulit batang yang terbuka pada batang bawah setinggi ± 20 centimeter dari pangkal batang dengan ukuran yang disesuaikan dengan mata tempel. Lidah tersebut diungkit dari kayunya serta dipotong setengahnya.
4. Masukkan mata tempel pada dalam lidah batang bawah hingga menempel dengan baik. Ikat tempelan dengan pita plastik putih pada seluruh bagian tempelan.
5. Sesudah 2 - 3 minggu, ikatan tempelan bisa dibuka serta semprot / kompres menggunakan ZPT. Tempelan yang jadi mempunyai tanda mata tempel berwarna hijau segar serta melekat.
6. Pada okulasi yang jadi, kerat batang sekitar 2 centimeter diatas okulasi dengan posisi melintang sedikit condong keatas sedalam 2/3 bagian penampang.
Tujuannya untuk mengkonsentrasikan pertumbuhan hingga memacu pertumbuhan mata tunas.
b) Penyambungan
1. Batang atas (entres) berupa cabang (pucuk cabang lateral).
2. Batang bawah dipotong pada ketinggian ± 20 centimeter dari leher akar.
3. Potong pucuknya serta belah bagian tengah batang bawah dengan panjang 2 - 5 centimeter.
4. Cabang entres dipotong se panjang ± 15 centimeter  (± 3 mata), daunnya dibuang, kemudian pangkal batang atas di iris berbentuk baji. Panjang irisan sama dengan panjang belahan batang bawah.
5. Batang atas disisipkan ke belahan batang bawah, hingga kambium keduanya dapat bertemu.
6. Ikat sambungan menggunakan tali plastik serapat mungkin.
7. Kerudungi setiap sambungan menggunakan kantung plastik. Sesudah berumur 2 - 3 minggu, kerudung plastik bisa dibuka untuk melihat keberhasilan sambungan.
4) Pemelihara an pembibitan
Pemeliharaan batang bawah meliputi
a) Pemupukan: dilakukan 1 - 2 bulan sekali menggunakan urea serta TSP masing - masing 5 gr per tanaman ditugalkan /disebar mengelilingi  sekitar tanaman.
b) Penyiangan: waktu penyiangan tergantung pada pertumbuhan gulma.
c) Pengairan: satu minggu sekali (bila tidak ada hujan)
d) Pemberantasan hama serta penyakit: disemprotkan pestisida 2 kali setiap bulan dengan memperhatikan gejala serangan. Fungisida yang digunakan adalah Antracol dan Dithane, sedangkan insektisida adalah Supracide dan Decis.
Bersama dengan itu bisa juga diberikan pupuk daun, ditambah perekat Agristic.
5) Pemindahan Bibit
Bibit okulasi grafting (penempelan dan sambungan) bisa dipindahkan ke media tanam saat umur minimal 6 bulan setelah okulasi, dipotong hingga tingginya 80-100 cm dan daunnya dirompes.

B. Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Persiapan yang diperlukan merupakan persiapan pengolahan tanah serta pelaksanaan survei. Tujuannya untuk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan paralatan serta biaya yang diperlukan.
2) Pembukaan Lahan
Tanah diolah dengan cara mencangkul tanah sekaligus membersihkan sisa - sisa tanaman yang masih tertinggal.
3) Pembentukan Bedengan
Pada tanaman apel bedeng hampir tidak dibutuhkan, tetapi hanya peninggian alur penanaman.
4) Pengapuran
Pengapuran bertujuan agar menjaga keseimbangan pH tanah. Pengapuran hanya dilakukan apabila ph tanah kurang dari 6.
5) Pemupukan
Pupuk yang digunakan saat pengolahan lahan adalah pupuk kandang sebanyak 20 kilogram per lubang tanam yang dicampur merata dengan tanah, setelah itu dibiarkan selama 2 minggu.

C. Teknik Penanaman
1) Penentu-an Pola Tanam
Tanaman apel bisa ditanam secara monokultur maupun intercroping. Intercroping hanya bisa dilakukan bila tanah belum tertutup tajuk - tajuk daun atau sebelum 2 tahun. Tapi pada saat itu, sesudah melalui beberapa penelitian intercroping pada tanaman apel dapat dilakukan dengan tanaman yang berhabitat rendah, misalnya cabai, bawang dan lainnya. Tanaman apel tidak bisa ditanam pada jarak yang terlalu rapat sebab akan menjadi sangat rimbun dan akan menyebabkan kelembaban tinggi, sirkulasi udara kurang, sinar matahari terhambat dan meningkatnya pertumbuhan penyakit. Jarak tanam yang ideal bagi tanaman apel tergantung varietas. Untuk varietas Manalagi dan Prices Moble adalah 3-3.5 x 3.5 meter, sedangkan untuk varietas Rome Beauty dan Anna dapat lebih pendek yaitu 2-3 x 2.5-3 meter.
2. Pem buatan Lubang Tanam
Ukuran lubang tanam adalah 50 x 50 x 50 centimeter  sampai 1 x 1 x 1 meter. Tanah atas serta tanah bawah dipisahkan, masing - masing dicampur pupuk kandang sekurang kurangnya 20 kilogram. Sesudah itu tanah dibiarkan selama ± 2 minggu, serta menjelang tanam tanah galian dikembalikan sesuai asalnya.
3. Cara Penanaman
Penanaman apel dapat dilakukan pada musim penghujan maupun kemarau (di sawah). Pada lahan tegal dianjurkan pada musim hujan.
Cara penanaman bibit apel adalah sebagai berikut:
a. Masukan tanah bagian bawah bibit kedalam lubang tanam.
b. Masukan bibit ditengah lubang sambil diatur perakarannya agar menyebar.
c. Masukan tanah bagian atas dalam lubang sampai sebatas akar dan ditambah tanah galian lubang.
d. Jika seluruh tanah telah masuk, tanah ditekan - tekan secara perlahan menggunakan tangan supaya bibit tertanam kuat dan lurus. Untuk menahan angin, bibit dapat ditahan pada ajir dengan ikatan longgar.

D. Pemeliharaan Tanaman
1 Penjarangan serta penyulaman
Penjarangan tanaman tidak di perlukan, tapi penyulaman diperlukan bagi tanaman yang mati atau dimatikan karena tidak menghasilkan menggunakan cara menanam tanaman baru menggantikan tanaman lama. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada musim penghujan.
2 Penyiangan
Penyiangan dilakukan hanya jika disekitar tanaman induk terdapat banyak gulma yang dianggap bisa mengganggu tanaman. Di kebun yang ditanami apel dengan jarak tanam yang rapat (± 3×3 m), penyiangan hampir tidak di butuhkan sebab tajuk daun menutupi permukaan tanah hingga ilalang  tidak dapat tumbuh.
3 Pembubunan
Penyiangan umumnya diikuti dengan pembubunan tanah. Pembubunan dimaksudkan untuk meninggikan kembali tanah disekitar tanaman supaya tidak tergenang air serta juga untuk menggemburkan tanah. Pembubunan biasanya dilakukan pasca panen atau bersamaan dengan pemupukan.
4 Perempalan / Pemangkasan
Bagian yang perlu dipangkas adalah bibit yang baru ditanam setinggi 80 centimeter, tunas yang tumbuh di bawah 60 centimeter, tunas - tunas ujung beberapa ruas dari pucuk, 4 - 6  mata serta bekas tangkai buah, knop yang tidak subur, cabang yang berpenyakit serta tidak produkrif, cabang yang menyulitkan pelengkungan, ranting atau daun yang menutupi buah. Pemangkasan dilakukan sejak umur 3 bulan hingga didapat bentuk yang diinginkan ( 4 - 5 tahun ).
5 Pemupukan
a) Pada musim hujan/tanah sawah
1. Bersamaan rompes daun

6. Hama dan Penyakit


1. Hama
1) Kutu hijau (Aphis pomi Geer)
Ciri: kutu dewasa berwarna hijau kekuningan, antena pendek, panjang tubuh 1,8 mm, ada yang bersayap ada pula yang tidak; panjang sayap 1,7 mm berwarna hitam; perkembangbiakan sangat cepat, telur bisa menetas dalam 3 - 4 hari. Gejala: (1) nimfa maupun kutu dewasa menyerang dengan mengisap cairan sel sel
daun secara berkelompok dipermukaan daun muda, terutama ujung tunas muda, tangkai cabang, bunga, serta buah, (2) kutu menghasilkan embun madu yang akan melapisi permukaan daun dan merangsang tumbuhnya jamur hitam (embun jelaga), daun berubah bentuk, mengkerut, leriting, terlambat berbunga, buah - buah muda gugur, jika tidak mutu buahpun jelek. Pengendalian: (1) sanitasi kebun dan pengaturan jarak tanam (jangan terlalu rapat); (2) dengan musuh alami coccinellidae lycosa, (3) dengan penyemprotan Supracide 40 EC (ba Metidation) dosis 2 cc / liter air atau 1-1,6 liter; (4) Supracide 40 EC dalam 500-800 liter/ha air dengan interval penyemprotan 2 minggu sekali; (5) Convidor 200 SL (b.a. Imidakloprid) dosis 0,125-0,250 cc/liter air; (6) Convidor 200 SL dalam 600 liter/h air dengan interval penyemprotan 10 hari sekali (7) Convidor ini dapat mematikan sampai telur-telurnya; cara penyemprotan dari atas ke bawah. Penyemprotan dilakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan serta dilanjutkan 1-1,5 bulan setelah
bunga mekar sampai 15 hari sebelum panen.
2) Tungau, Spinder mite, cambuk merah (panonychus Ulmi)
Ciri: berwarna merah tua, dan panjang 0,6 mm. Gejala: (1) tungau menyerang daun dengan menghisap cairan sel-sel daun; (2) pada serangan hebat menimbulkan bercak kuning, buram, cokelat, dan mengering; (3) pada buah menyebabkan bercak keperak-perakan atau coklat. Pengendalian: (1) dengan musah alami coccinellidae dan lycosa; (2) penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air atau 1 liter Akarisida Omite 570 EC dalam 500 liter air per hektar dengan interval 2 minggu.
3) Trips
Ciri: berukuran kecil dengan panjang 1mm; nimfa berwarna putih kekuningkuningan; dewasa berwarna cokelat kehitam-hitaman; bergerak cepat dan bila tersentuh akan segera terbang menghindar. Gejala: (1) menjerang daun, kuncup/tunas, dan buah yang masih sangat muda; (2) pada daun terlihat berbintikbintik
putih, kedua sisi daun menggulung ke atas dan pertumbuhan tidak normal; (3) daun pada ujung tunas mengering dan gugur (4) pada daun meninggalkan bekas luka berwarna coklat abu-abu. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur pada daun dan menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidk
terlalu rapat; (2) penyemprotan dengan insektisida seperti Lannate 25 WP (b.a. Methomyl) dengan dosis 2 cc/liter air atau Lebaycid 550 EC (b.a. Fention) dengan dosis 2 cc/liter air pada sat tanaman sedang bertunas, berbunga, dan pembentukan buah.
4) Ulat daun (Spodoptera litura)
Ciri: larva berwarna hijau dengan garis-garis abu-abu memanjang dari abdomen sampai kepala.pada lateral larva terdapat bercak hitam berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran, meletakkan telur secara berkelompok dan ditutupi dengan rambut halus berwarna coklat muda. Gejala: menyerang daun, mengakibatkan lubang-lubang tidak teratur hingga tulang-tulang daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur pada daun; (2) penyemprotan dengan penyemprotan seperti Tamaron 200 LC (b.a Metamidofos) dan Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos).
5) Serangga penghisap daun (Helopelthis Sp)
Ciri: Helopelthis Theivora dengan abdomen warna hitam dan merah, sedang HelopelthisAntonii dengan abdomen warna merah dan putih. Serabgga berukuran kecil. Penjang nimfa yang baru menetas 1mm dan panjang serangga dewasa 6-8mm. Pada bagian thoraknya terdapat benjolan yang menyerupai jarum. Gejala : menyerang pada pagi, sore atau pada saat keadaan berawan; menyerang daun muda, tunas dan buah buah dengan cara menhisap cairan sel; daun yang terserang menjadi coklat dan perkembanganya tidak simetris; tunas yang terserang menjadi coklat, kering dan akhirnya mati; serangan pada buah
menyebabkan buah menjadibercak-bercak coklat, nekrose, dan apabila buah membesar, bagian bercak ini pecah yang menyebebkan kualitas buah menurun. Pengendalian : (1) secara mekanis dengan cara pengerondongan atap plastik/pembelongsongan buah. (2) Penyemprotan dengan insektisida seperti
Lannate 25 WP (b.a. Metomyl), Baycarb 500 EC (b.a. BPMC), yang dilakukan pada sore atau pagi hari.
6) Ulat daun hitam (Dasychira Inclusa Walker)
Ciri: Larva mempunyai dua jambul dekat kepala berwarna hitam yang mengarah kearah samping kepala. Pada bagian badan terdapat empat jambul yang merupakan keumpulan seta berwarna coklat kehitam-hitaman. Disepanjang kedua sisi tubuh terdapat rambut berwarna ab-abu. Panjang larva 50 mm. Gejala : menyerang daun tua dan muda; tanaman yang terserang tinggal tulang daundaunnya dengan kerusakan 30%; pada siang hari larva bersembunyi di balik daun. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan membuang telur-telur yang biasanya diletakkan pada daun; (2) penyemprotan insektisida seperti : Nuvacron 20 SCW (b.a. Monocrotofos) dan Matador 25 EC.
7) Lalat buah (Rhagoletis Pomonella)
Ciri: larva tidak berkaki, setelah menetas dari telur (10 hari) dapat segera memakan daging buah. Warna lalat hitam, kaki kekuningan dan meletakkan telur pada buah. Gejala: bentuk buah menjadi jelek, terlihat benjol-benjol. Pengendalian: (1) penyemprotan insektisida kontak seperti Lebacyd 550 EC; (2) membuat perangkat lalat jantan dengan menggunakan Methyl eugenol sebanyak 0,1 cc ditetesan pad kapas yang sudah ditetesi insektisida 2 cc. Kapas tersebutkapas tersebut dimasukkan ke botol plastik (bekas air mineral) yang digantungkan ketinggian 2 meter. Karena aroma yang mirip bau-bau yang dikeluarkan betina, maka jantan tertarik dan menhisap kapas.

2. Penyakit
1) Penyakit embun tepung (Powdery Mildew)
Penyebab : Padosphaera leucotich Salm. Dengan stadia imperfeknya adalah oidium Sp. Gejala: (1) pada daun atas tampak putih, tunas tidak normal, kerdil dan tidak berbuah; (2) pada buah berwarna coklat, berkutil coklat. Pengendalian: (1) memotong tunas atau bagian yang sakit dan dibakar; (2) dengan menyemprotka fungisida Nimrod 250 EC 2,5-5 cc/10 liter air (500liter/Ha) atau Afugan 300 EC 0,5-1 cc/liter air (pencegahan) dan 1-1,5 cc/liter air setelah perompesan sampai tunas berumur 4-5 minggu dengan interval 5-7 hari.
2) Penyakit bercak daun (Marssonina coronaria J.J. Davis)
Gejala : pada daun umur 4-6 minggu setelah perompesan terlihat bercak putih tidak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam, dimulai dari daun tua, daun muda hingga seluruh bagian gugur. Pengendalian: (1) jarak tanam tidak terlalu rapat, bagian yang terserang dibuang dan dibakar; (2) disemprot
fungisida Agrisan 60 WP 2 gram/liter air, dosis 1000-2000 gram/ha sejak 10 hari setelah rompes dengan interval 1 minggu sebanyak 10 aplikasi atau Delseme MX 200 2 gram/liter air, Henlate 0,5 gram/liter air sejak umur 4 hari setelah rompes dengan interval 7 hari hingga 4 minggu.
3) Jamur upas (Cortisium salmonicolor Berk et Br)
Pengendalian: mengurangi kelembapan kebun, menghilangkan bagian tanaman yang sakit.
4) Penyakit kanker (Botryosphaeria Sp.)
Gejala : menyerang batang/cabang (busuk, warna coklat kehitaman, terkadang mengeluarkan cairan), dan buah (becak kecil warna cokelat muda, busuk, mengelembung, berair dan warna buah pucat. Pengendalian : (1) tidak memanen buah terlalu masak; (2) mengurangi kelembapan kebun; (3) membuang bagian yang sakit; (4) pengerokkan batang yang sakit lalu diolesi fungisida Difolatan 4 F 100 cc/10 liter air atau Copper sandoz; (5) disemprot Benomyl 0,5 gram/liter air, Antracol 70 WP 2 gram/liter air.
5) Busuk buah (Gloeosporium Sp.)
Gejala: bercak kecil cokelat dan bintik-bintik hitam berubah menjadi orange. Pengendalian : tidak memetik buah terlalu masak dan pencelupan dengan Benomyl 0,5 gram/liter air untuk mencegah penyakit pada penyimpanan.
6) Busuk akar (Armilliaria Melea)
Gejala : menjerang tanaman apel pada daerah dingin basah, ditandai dengan layu daun, gugur, dan kulit akar membusuk. Pengendalian: dengan eradifikasi, yaitu membongkar/mencabut tanaman yang terserang beserta akar-akarnya, bekas lubang tidak ditanami minimal 1 tahun.

7. Panen


1. Ciri dan Umur Panen
Pada umumnya buah apel dapat dipanen pada umur 4-5 bulan setelah bunga mekar, tergantung pada varietas dan iklim. Rome Beauty dapat dipetik pada umur sekitar 120-141 hari dari bunga mekar, Manalagi dapat dipanen pada umur 114 hari setelah bunga mekar dan Anna sekitar 100 hari. Tetapi, pada musim hujan dan tempat lebih tinggi, umur buah lebih panjang. Pemanenan paling baik dilakukan pada saat tanaman mencapai tingkat masak fisiologis (ripening), yaitu tingkat dimana buah mempunyai kemampuan untuk menjadi masak normal setelah dipanen. Ciri masak fisiologis buah adalah: ukuran buah terlihat maksimal, aroma mulai terasa, warna buah tampak cerah segar dan bila ditekan terasa kres.

2. Cara Panen
Pemetikan apel dilakukan dengan cara memetik buah dengan tangan secara serempak untuk setiap kebun.

3. Periode Panen
Periode panen apel adalah enam bulan sekali berdasarkan siklus pemeliharaan yang telah dilakukan.

4. Prakiraan Produksi
Produksi buah apel sangat tergantung dengan varietas, secara umum produksi apel adalah 6-15 kg/pohon.

8. Pasca Panen


1. Pengumpulan
Setelah dipetik, apel dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan apel yang tinggi kualitas dan kuantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk dan dilempar-lempar, lalu dibawa dengan keranjang ke gudang untuk diseleksi.

2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan untuk memisahkan antara buah yang baik dan bebas penyakit dengan buah yang jelek atau berpenyakit, agar penyakit tidak tertular keseluruh buah yang dipanen yang dapat menurunkan mutu produk. Penggolongan dilakukan untuk mengklasifikasikan produk berdasarkan jenis varietas, ukuran dan kualitas buah.

3. Penyimpanan
Pada dasarnya apel dapat disimpan lebih lama dibanding dengan buahan lain, misal Rome Beauty 21-28 hari (umur petik 113-120 hari) atau 7-14 hari (umur petik 127- 141 hari). Untuk penyimpanan lebih lama (4-7 bulan), harus disimpan pada suhu minus 6-0 derajat C dengan precooling 2,2 derajat C.

4. Pengemasan dan Transportasi
Kemasan yang digunakan adalah kardus dengan ukuran 48 x 33 x 37 cm dengan berat 35 kg buah apel. Dasar dan diatas susunan apel perlu diberi potongan kertas dan disusun miring (tangkai sejajar panjang kotak). Dasar kotak diisai 3-3 atau 2-2 atau berselang 3-2 saling menutup ruang antar buah.

Sumber

epetani departemen pertanian

   

Page 8 of 12

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>