Budidaya Sidat Masih Menggiurkan

Budidaya Ternak

User Rating: / 13
PoorBest 
Budidaya Sidat Masih Menggiurkan - 4.7 out of 5 based on 13 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Budidaya Sidat Masih Menggiurkan

budidaya ikan sidat

Budidaya sidat saat ini menjadi salah satu peluang usaha yang menjanjikan serta memiliki omzet yang tinggi. Komoditas ikan sidat hingga saat ini masih terbatas dikarenakan belum ada teknologi untuk pemijahan, hal ini menyebabkan harga di pasaran terbilang cukup tinggi. Keberadaan makhluk licin yang memiliki lendir ini sangat diminati pasar dunia. Terutama konsumen oriental, seperti Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan China. Permintaan sidat di pasaran internasional mencapai 300 000 ton per tahunnya. Dari seluruh kebutuhan tersebut, permintaan negara Jepang terhadap jenis unagi kabayaki mencapai 150 000 ton per tahun. Bahkan, menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Subiakto, permintaan di dalam negeri begitu besar yakni sebanyak 3 ton per bulan hanya untuk wilayah Jakarta saja, belum termasuk wilayah lainnya.

Meningkatnya permintaan komoditas sidat diiringi dengan berkembangnya restoran Jepang di Jakarta dan berbagai daerah lain. “itu pun masih kekurangan pasokan bahan baku sidat,” sambungnya. Dia mengatakan, saat ini harga sidat bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp 600ribu/kg. Oleh karenanya menurutnya, ini merupakan tugas Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP ) dalam mengembangkan serta mendorong masyarakat agar dapat membudidayakan sidat ini, disebabkan sidat memiliki nilai tambah yang sangat tinggi. Peluang usaha budidaya sidat masih sangatlah terbuka dan menguntungkan.

“Potensi sidat di Indonesia sangat luar biasa besarnya, karena Indonesia merupakan negara penghasil sidat terbesar di dunia, karena hampir seluruh muara di perairan indonesia terdapat sidat,” kata Slamet dalam acara kunjungan kerja ke PT Jawa Suisan Indah di Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat.

Pada saat ini, selain Indonesia yang menjadi pengekspor sidat, negara - negara seperti Eropa, China, Amerika serikat turut mengekspor sidat. Saat ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk pembenihan sidat, masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam.” Bahkan di belahan dunia manapun belum ada teknologi pemijahan bagi sidat ini,” ungkap Slamet.

Maka dari itu, Slamet mengimbau kepada masyarakat agar menjaga kelestarian sidat dan jangan menangkap sidat diatas 500gr. Selain itu, pemerintah daerah setempat harus membuat peraturan bahwa orang menangkap sidat dari alam harus dibudidayakan tidak boleh dijual langsung. “Tapi untuk sidat yang berukuran diatas 30 cm itu baru boleh dijual,” ungkapnya.

Terkait masalah ekspor benih ilegal, Slamet menegaskan tidak boleh ekspor sidat jenis elver dan glass eel karena sudah ada Peraturan Menteri yang mengatur pelarangan ekspor benih sidat. Slamet merespons hal tersebut dengan menerjunkan tim untuk mengevaluasi dan mengawasi ke lapangan mengenai kebenaran ekspor benih sidat ilegal.

Dia merinci, ekspor yang dilarang adalah benih - benih sidat yang berukuran panjang 30 dan diameternya minimal 2,5 cm dan beratnya sekitar 100gram. Untuk itulah, pihaknya akan bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) dalam mengawasi peredaran penjualan sidat ilegal. Slamet mengakui masih terkendala dalam penyediaan pakan untuk sidat. “Budidaya Sidat merupakan hal yang baru, nah  tantangan bagi kita untuk membuat formulasi pakan sidat,” katanya.

Masalah senada dikatakan oleh pemilik PT Jawa Suisan Indah, Ishitani bahwa pakan untuk sidat masih menjadi kendala. Menurutnya pakan khusus sidat masih belum ada yang sesuai  di Indonesia. aka dari  itu, pabrik ini menyiasatinya dengan memakai pakan udang untuk pakan sidat. Selain itu, dia mengatakan saat ini pabriknya masih kekurangan bahan baku untuk pabrik pengolahannya. “Kapasitas pabrik sekitar 2000 ton, hanya produksi pabrik ini belum optimal baru mencapai 300 ton/tahun,” jelasnya.

Maka dari  itu, dia berharap supaya ditambahnya pasokan sidat sehingga dapat memenuhi permintaan pasar. Untuk menyiasati kekurangan pasokan, Ishitani memberdayakan pembudidaya dengan membeli hasil tangkapan sidat dari masyarakat. “Biasanya, kami membeli dari masyarakat minimal ukurannya sekitar 5 gram.

Perlunya Sosialisasi
Hal senada dikemukakan oleh syamsudin bahwa budidaya sidat masih terkendala mengenai teknologi pemijahan dan pakan. Sampai sekarang belum ada teknologi untuk pemijahan sidat, hasil tangkapan masih bergantung pada alam.

Dia mengemukakan di Indonesia, pusat sidat terdapat di Parigi Moutong, Manado, NTT, Aceh, Bengkulu. Menurutnya, hasil tangkapan dari alam masih terbilang cukup banyak, tentunya harus kita kendalikan. “Sangat disayangkan, pada umumnya masyarakat belum tahu bahwa sidat memiliki nilai jual yang tinggi, sehingga banyak yang dijual murah,” lanjutnya.

Dia mencontohkan, ketika ke labuan Bajo, disana sidat dijual dengan sangat murah, untuk ukuran 1-2 meter yang sudah dikeringkan dan diasinkan dijual dengan harga Rp2 ribu/kilogram. Untuk itu, lanjutnya kita perlu mensosialisasikan bahwa ikan sidat ini memiliki harga jual yang tinggi, “Ini merupakan peluang kita dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sosialisasi budidaya sidat ini,” lanjutnya.

Maka dari  itu, dia mengharapkan adanya dukungan pemerintah dalam mensosialisasikan serta mengendalikan perdagangan sidat melalui peraturan - peraturan dan ketentuan yang jelas. Dikatakannya, banyak orang ketika menjual sidat bisa langsung dikirim dan dieskpor secara ilegal, karena pengawasan belum diperketat. Biasanya mereka lihai dalam meloloskan sidat ini melalui berbagai cara dan metode sehingga Badan Karantina ikan kecolongan.

Lebih jauh lagi dia mengungkapkan, bantuan PUMP perikanan budidaya dapat digunakan sebagai modal untuk membudidayakan sidat, jadi bukan hanya komoditi ikan nila dan lele saja yang dapat. Sejauh  ini pembudidaya sidat di perigi moutong telah mendapat bantuan program PUMP PB / kelompok Rp65 juta. “Kami sebagai Asosiasi sekaligus pebisnis siap membeli berapa pun hasil tangkapan sidat dari masyarakat. Nah, hasil tersebut kita jual kepada PT Ishitani yang kekurangan dalam pasokan bahan baku,” katanya.

“Peluang ini  harus kita manfaatkan. Untuk itu kita akan mensinergikan pengusaha - pengusaha skala menengah dengan UPT”, pungkasnya. Perlu diketahui, sidat juga meiliki banyak keunggulan, diantaranya terdapat kandungan vitamin A, kandungan EPA rata-rata lebih tinggi DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atautenggiri 748 mg/100 gram.

Ikan sidat memiliki bentuk yang mirip belut. Secara fisik belut memiliki bentuk kepala lancip serta bulat, sedangkan ikan sidat ini mempunyai bentuk kepala segitiga, badan berbintik-bintik, dan ekor yang mirip ekor lele. Sidat juga bukan belut berkuping. Karena, yang selama ini dianggap telinga, sebenarnya adalah sirip. Dilihat dari ukurannya, panjang tubuh belut akan mentok di kisaran 60 cm. Sedangkan panjang sidat berkisar 80 cm - 125 cm. Bobot terberat binatang ini juga bisa mencapai angka 1 kilogram. Bahkan, di Pulau Enggano, Propinsi Bengkulu pernah ditemukan ikan sidat dengan berat mencapai 10 kilogram.

Selain mempunyai pasar ekspor yang potensial, ikan sidat sendiri memiliki kandungan vitamin yang tinggi. Hati ikan sidat memiliki 15.000 IU/100 gram kandungan vitamin A. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram. Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. sedangkan kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram. Dengan fakta seperti ini, maka membudidayakan ikan sidat selain mempunyai potensi pasar yang menjanjikan juga dapat memberikan jaminan gizi bagi orang yang mengkonsumsinya. Jadi, tertarikkah anda terhadap peluang usaha sidat ini.



Narasumber:
Dr. Slamet Subyakto
Dirjen Perikanan Budidaya
Departemen Budidaya Perairan IPB


Silahkan di share atau like ke social media di bawah ini supaya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Copy artikel harus memberikan live link ke sumber artikel

Akses ditolak!
Silahkan Login atau Register Untuk berkomentar!