Budidaya Kelinci

Budidaya Ternak

User Rating: / 4
PoorBest 
Budidaya Kelinci - 3.8 out of 5 based on 4 votes

Pastikan anda Like UKM Kecil di Facebook untuk mendapat update inspirasi terbaru. Silahkan Login untuk merating artikel.

Budidaya Kelinci

 

Budidaya Kelinci

Budidaya kelinci amatlah menarik. Kelinci memiliki daya adaptasi tubuh yang relatif tinggi hingga dapat hidup di hampir seluruh dunia. Kelinci dikembangkan di daerah dengan populasi penduduk relatif tinggi, Adanya penyebaran kelinci juga menimbulkan sebutan yang berbeda, di Eropa disebut rabbit, Indonesia disebut kelinci.

Manfaat yang diambil dari kelinci adalah bulu atau hewaqn kesayangan dan daging yang sampai saat ini mulai laku keras di pasaran. Selain itu hasil ikutan juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk, kerajinan serta pakan ternak.

 

1. Persyaratan Lokasi Budidaya Kelinci.

Lokasi harus dekat dengan sumber air, jauh dari kediaman manusia, bebas gangguan asap, bebas bau bauan, bebas suara bising serta terlindung dari predator.

 

2. Pedoman Teknis Budidaya Kelinci.

Yang perlu di perhatikan dalam budidaya kelinci adalah lokasi yang sesuai, tersedianya kandang, tersedianya bibit serta tersedianya pakan

 

A. Penyiapan Kandang Kelinci

Fungsi kandang untuk tempat berkembangbiak dengan suhu ideal 21° C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam serta terlindung dari predator.

Menurut kegunaannya, kandang kelinci dibedakan menjadi kandang induk. Untuk induk atau kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya, kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih. Untuk menghindari perkawinan awal kelompok dilakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 centi meter, tinggi alas 50 centi meter cukup untuk 12 ekor betina atau 10 ekor jantan. Kandang anak (kotak beranak) ukuran 50x30x45 centi meter.

Menurut bentuknya kandang kelinci dibagi menjadi:

  1. Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda.
  2. Kandang sistem ranch, dilengkapi dengan halaman pengumbaran.
  3. Kandang battery, mirip sangkar berderet dimana satu sangkar bagi satu ekor menggunakan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid).

Perlengkapan kandang yang diperlukan yaitu wadah pakan dan minum yang tahan pecah serta mudah dibersihkan.

B. Pembibitan Kelinci

Bibit kelinci yang di pakai tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut.

Bagi tujuan jenis bulu atau hewan kesayangan maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Tapi bila di ambil daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan serta New Zealand merupakan ternak yang cocok.

1. Pemilihan bibit serta calon induk

Pada peternakan yang di ambil dagingnya, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan serta tinggi dengan perdagingan yang baik, namun pada peternakan yang di ambil bulu atau hewan peliharaan harus memilih bibit-bibit yang memiliki potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah dan aktif bergerak.

2. Perawatan bibit serta calon induk

Perawatan bibit akan menentukan kualitas induk yang baik , oleh sebab itu perawatan yang mesti diperhatikan adalah pemberian pakan yang cukup, pengaturan dan sanitasi kandang yang baik dan mencegah kandang dari

gangguan luar.

3. Sistem Pemuliabiakan Kelinci

Agar memperoleh keturunan yang lebih baik serta mempertahankan sifat yang spesifik maka pembiakan dibedakan dalam 3 kategori yaitu:

  1. In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging.
  2. Cross Breeding (silang luar), untuk memperoleh keturunan lebih baik atau menambah sifat-sifat unggul.
  3. Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk memperoleh bangsa atau jenis baru yang diharapkan mempunyai penampilan yang

merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit.

4. Reproduksi serta Perkawinan

Kelinci betina segera dikawinkan saat mencapai dewasa pada umur 5 bulan (betina dan jantan). Bila terlalu muda kesehatan terganggu dan kematian anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya kawinkan dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi atau sore hari di kandang pejantan serta biarkan sehingga terjadi 2 kali perkawinan, sesudah itu pejantan dipisahkan.

5. Proses Kelahiran Kelinci

Sesudah perkawinan kelinci betina akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan pada kelinci dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari sesudah perkawinan, bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak guna memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci sering terjadi dimalam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.

C. Pemeliharaan

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

Kandang diusahakan selalu kering agar tidak menjadi sarang penyakit. Kandang yang lembab dan basah menyebabkan kelinci mudah pilek serta terserang penyakit kulit.

2. Pengontrolan Penyakit

Kelinci yang terserang penyakit umumnya punya gejala lesu, nafsu makan turun, suhu badan naik dan mata sayu. Bila kelinci menunjukkan hal ini segera dikarantinakan termasuk benda pencemar juga mesti disingkirkan guna mencegah wabah penyakit.

3. Perawatan Ternak

Penyapihan pada anak kelinci dilakukan sesudah umur 7 hingga 8 minggu. Anak sapihan ditempatkan kandang tersendiri dengan isi 2 - 3 ekor/kandang serta disediakan pakan yang cukup dan berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu guna mencegah dewasa yang terlalu dini. Pengebirian bisa dilakukan ketika menjelang dewasa. Biasanya dilakukan pada kelinci jantan dengan membuang testisnya.

4. Pemberian Pakan

Jenis pakan yang diberikan meliputi hijauan seperti rumput lapangan, rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi dan daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang hijau, padi, kacang tanah, sorghum, dedak dan bungkil-bungkilan. Untuk memenuhi pakan ini butuh pakan tambahan berupa konsentrat yang bisa dibeli di toko pakan ternak. Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput sedikit atau secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Pemberian air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.

5. Pemeliharaan Kandang

Lantai atau alas kandang, tempat pakan dan minum, sisa pakan serta kotoran kelinci setiap hari harus dibersihkan untuk menghindari timbulnya penyakit. Sinar matahari pagi mesti masuk ke kandang guna membunuh bibit penyakit. Dinding kandang dicat menggunakan kapur atau ter. Kandang bekas kelinci sakit dibersihkan menggunakan kreolin atau lysol.

 

3. Hama serta Penyakit

1. Bisul

Penyebab: terjadinya pengumpulan darah kotor di bawah kulit.

Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium.

2. Kudis

Penyebab: Darcoptes scabiei. Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh.

Pengendalian: dengan antibiotik salep.

3. Eksim

Penyebab: kotoran yang menempel di kulit.

Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl.

4. Penyakit telinga

Penyebab: kutu.

Pengendalian: meneteskan minyak nabati.

5. Penyakit kulit kepala

Penyebab: jamur.

Gejala: timbul semacam sisik pada kepala.

Pengendalian: dengan bubuk belerang.

6. Penyakit mata

Penyebab: bakteri dan debu.

Gejala: mata basah dan berair terus.

Pengendalian: dengan salep mata.

7. Mastitis

Penyebab: susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar.

Gejala: puting mengeras dan panas bila dipegang.

Pengendalian: dengan tidak menyapih anak terlalu mendadak.

8. Pilek

Penyebab: virus.

Gejala: hidung berair terus.

Pengendalian: penyemprotan antiseptik pada hidung.

9. Radang paru-paru

Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.

Gejala: napas sesak, mata dan telinga kebiruan.

Pengendalian: diberi minum Sul-Q-nox.

10. Berak darah

Penyebab: protozoa Eimeira.

Gejala: nafsu makan hilang, tubuh kurus, perut membesar dan mencret darah.

Pengendalian: diberi minum sulfaquinxalin dosis 12 ml dalam 1 liter air.

11. Hama pada kelinci umumnya merupakan predator dari kelinci seperti anjing. Pada

umumnya pencegahan dan pengendalianhama dan penyakit dilakukan dengan

menjaga kebersihan lingkungan kandang, pemberian pakan yang sesuai dan

memenuhi gizi dan penyingkiran sesegera mungkin ternak yang sakit.

 

4. Panen

  1. Hasil Utama : Hasil utama kelinci adalah daging dan bulu atau hewan kesayangan
  2. Hasil Tambahan : Hasil tambahan berupa kotoran untuk pupuk
  3. Penangkapan : Kemudian yang perlu diperhatikan dalam budidaya kelinci adalah cara memegang kelinci hendaknya yang benar agar kelinci tidak kesakitan.

 

5. Pasca Panen

1. Stoving

Kelinci dipuasakan 6-10 jam sebelum potong untuk mengosongkan usus. Pemberian minum tetap .

2. Pemotongan

Pemotongan dapat dengan 3 cara:

  1. Pemukulan pendahuluan, kelinci dipukul dengan benda tumpul pada kepala lalu saat koma disembelih.
  2. Pematahan tulang leher, dipatahkan dengan tarikan pada tulang leher. Cara ini kurang baik.
  3. Pemotongan biasa atau langsung di sembelih, sama seperti memotong ternak lain.

3. Pengulitan

Pengulitan dimulai dari kaki belakang ke arah kepala dengan posisi kelinci digantung.

4. Pengeluaran Jeroan

Kulit perut disayat pada pusar sampai ekor kemudian jeroan seperti usus, jantung dan paru-paru dikeluarkan. Yang harus diperhatikan kandung kemih jangan sampai pecah bisa mempengaruhi kualitas karkas.

5. Pemotongan Karkas

Kelinci dipotong jadi 8 bagian, 2 potong kaki depan, 2 potong kaki belakang, 2 potong bagian dada dan 2 potong bagian belakang. Presentase karkas yang baik 49-51%.

 

6. Analisa Usaha Budidaya Kelinci

 

Daftar Pustaka

1. Anonymous, 1986, Pemeliharaan Kelinci dan Burung Puyuh, Yasaguna, Jakarta.

2. Kartadisastra. HR, 1995, Beternak Kelinci Unggul, Kanisius, Yogyakarta.

3. Sarwono. B, 1985, Beternak Kelinci Unggul, Penebar Swadaya, Jakarta.

4. Yunus. M dan Minarti. S, 1990, Aneka Ternak, Universitas Brawijaya, Malang.

Kontak Hubungan

1. Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

2. Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Silahkan di share atau like ke social media di bawah ini supaya lebih banyak lagi yang mendapat manfaat. Copy artikel harus memberikan live link ke sumber artikel

Akses ditolak!
Silahkan Login atau Register Untuk berkomentar!